Selasa, 10 November 2009
Maksiat dan Mawas Diri
Seorang laki-laki datang menemui Ibrahim bin Adham lalu bertanya, “Wahai Abu Ishaq, panggilan akrab Ibrahim bin Adham, aku banyak melakukan perbuatan tidak baik, maka tunjukkanlah kepadaku apa yang dapat membuatku jera dan menyelematkan jiwaku.”
Ibrahhn bin Adham menjawab, “Jika engkau mau menerima hal dan engkau mampu menjalankannya, maka itu tidak merugikanmu dan tidak pula menghilangkan kenikmatan hidupmu.” Ibrahim bin Adham melajutkan nasihatnnya.
“Pertama, jika engkau hendak melakukan perbuatan durhaka terhadap Allah Azza wa Jalla, maka janganlah makan dari rizki-Nya!” Laki-laki itu bertanya, “Jadi apa yang harus aku makan sementara semua yang ada di bumi ini dan rizki Allah?!” Ibrahim bin Adham menjawab, “Itulah .... Karenannya tanyakan pada dirimu, apakah pantas apabila engkau makan dan rizki-Nya, lalu engkau durhaka terhadap-Nya?”
“Kedua, jika engkau hendak melakukan perbuatan durhaka terhadap Allah Azza wa Jalla, maka janganlah tinggal di bumi-Nya.” Laki-laki itu menjawab, “Inilah lebih berat dan yang pertama. Jika barat dan timur dan antara keduanya adalah milik-Nya, dimana aku harus tinggal?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Itulah .... Karenanya tanyakan pada dinimu, apakah pantas engkau makan dan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara engkau durhaka terhadap-Nya.
“Ketiga, jika engkau hendak melakukan perbuatan durhaka terhadap Allah Azza wa Jalla, sementara engkau makan dan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka lihatlah apakah ada suatu tempat yangtidak terlihat oleh siapa pun agar engkau dapat melakukan maksiat terhadap-Nya.” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Ibrahim, bagaimana mungkin, karena Allah pasti melihat segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang tampak.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Jika demikian, apakah pantas jika engkau makan dan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, lalu menentangnya sementara dia bisa melihatmu dalam keadaan apa pun!”
“Keempat, jika engkau hendak melakukan perbuatan durhaka terhadap Allah Azza wa Jalla inaka ingatlali, apakah engkau mampu menolak kedatangan malaikat pencabut nyawa, lalu meminta agar diberi tangguh sehingga dapat berbuat amal saleh dan bertaubat? Jika tidak dapat, bagaimana engkau meminta keselamatan?!”
“Kelima, jika engkau hendak melakukan perbuatan durhaka terhadap Allah Azza wa Jalla maka ingatlah, apakah engkau dapat menolak ketika malaikat penjaga neraka menjemput untuk membawamu kesana?! Jika tidak, bagaimana caranya untuk mengharap keselamatan?!”
Mendeñgar nasihat-nasihat yang disampaikan Ibrahim bin Adham lelaki itu sadar lalu memohon ampun kepada Allah dan bertekad untuk bertaubat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar