Sabtu, 23 Mei 2009

Kami bertutur dalam sebuah seminar masa muda, kata-kata yang masih berserakan lambat laun mulai terangkai, walau sulit bagi kami tuk menuliskannya,.
Sebuah Mimpi?... ah,. bukan, dia bukan mimpi, tapi sebuah cita, sebuah cita tentang dunia, tentang peradaban, akan hadirnya sebuah kebangkitan, dan kami sebagai pilar-pilar kokohnya.
Namun hanya sebatas tutur kawanan muda, kawanan muda yang masih banyak celah, lagi angkuh. Yakin, detik akan tawarkan warna baru, sentuha kebijakan orang tua, karna toh ini adalah tugas bersama, tak bisa dilakukan oleh Kamu atau Aku! tapi, harus berubah menjadi Kita, Bukan Kami atau Mereka, tapi Kita,. tak ada yang boleh berkhianat, walau terkadang itu adalah pilihan yang logis, masih banyak lagi yang harus disiapkan, semua ada pada waktunya, walau aku berfikir percepatan adalah pilihan.
Deretan soal ini, butuh jawaban segera, tapi, bagaimana mau menjawab, jika pertanyaannya saja belum diterjemah.
Semua harus berawal,melangkah dan terus, laksana pion dalam permainan catur, tak boleh kebelakang, hingga tiba waktunya berubah,.. Masalah,! tentu semua sadar takkan ada hal tanpa dihadiri olehnya, apapun itu, dan dia yang menambah indah kanvas lukismu, dan memang makhluk sepertimu butuh bukti.
Kapan? Kapankah kan terwujud!
Sekecil apapun itu, ia telah terwujud dalam wajah peradaban yang sedang kita bangun, mungkin belum ada hal besar yang kita lakukan, tapi aku tahu kita selalu termotivasi melakukan hal besar.......................................................................................................................




MyR

Kamis, 21 Mei 2009

Reportase

Reportase

Duh… nggak terasa udah nich, dag…dig…dug…nungguin hasilnya... khususnya untuk kelas XII ujian merupakan akhir perjuangan dibangku pendidikan sekolah. Apakah pendidikan di negeri tercinta kita Indonesia ini telah berjalan dengan baik? Apakah pelaksanaan Ujian Nasional dapat menjadi patokan kemampuan kita dalam meraih pendidikan…? Yuk kita tanya beberapa teman kita tentang pelaksanaan pendidikan di Indonesia…

Annisa, XII YKPP 1

“Keputusan pemerintah yang akan menaikan lagi standar UN di Indonesia kurang kondusif. Ga’ selamanya UN dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia, karena pendidikan sndiri belum merata. Masih ada sekolah yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah apalagi didaerah2, sehingga membuat sekolah tersebut sulit untuk mrngikuti standar nilai UN. Pemerintah menaikan UN agar pendidikan baik, tapi pemerintah sendiri nggak memberikan usaha, fasilitas to pencapaian standar tersebut pada sekolah2 yang kurang perhatian tadi. Sebaiknya pemerintah meratakan pendidikan dulu di Indonesia ini, dengan begitu baru standar UN dapat diterapkan secara baik”

Hamzah Ramadhan, kelasXII SMAN 8

“Menurut saya, pendidikan di Indonesia ini masih dalam tahap coba2,karena keinginan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang maju dalam diimbangi dengan kemampuan pemerintahan untukmenyediakan fasilitas yang memadai. Begitu juga dengan UN yang terkesan memaksa siswa untuk mempunyai standar nilai yang bagus tapi tida diimbangi dengan kemmpuan siswanya.”

Elisa, kelas XII SMAN 21

“Menurut pendapat saya pendidikan di Indonesia sekarang kurang maksimal karena salah satunya banyak di manfaat orang-orang sebagai dunia politik.”

M. Zulnizar ,XII SMAN 18

“ Menurut saya pelaksanaan UN itu bagus karena untuk memotivasi siswa agar lebih unggul tapi UN dengan nilai tinggi yang dipatok oleh mendiknas itu sebaiknya dihapus karena setiap sekolah itu berbeda kualitas siswanya”

Setiap orang pastinya mempunyai pendapat yang berbeda-beda tapi jangan jadikan perbedaan itu sebagai penghalang kita untuk memajukan dunia pendidikan kita. Sahabat kreasi, tetap semangat yach jangan sampai UN menjadi beban coz kalo kalian sudah berfikir sulit maka kalian pasti akan sulit sebelum ujian. Jangan kalah sebelum berperang, berdoa, berusaha dan semangat. Oc. (s121_Q2)

Kamis, 14 Mei 2009

Hikmah

Hikmah

Segelas Besar susu

Suatu hari seorang anak lelaki miskin yang hidup menjadi asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa di kantongnya hanya tertinggal beberapa send an ia sangat lapar. Anak lelaki itu memutuskan meminta makanan di rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilang keberanian saat seorang wanita membuka pintu. Anak itu tidak jadi meminta makanan ia hanya berani meminta segelas air. Wanita itu melihat dan berfikir pastilah anak ini lapar. Oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat lalu bertanya”berapa saya harus membayarnya segelas besar susu ini?”. Wanita itu menjawab ” kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan.

Beberapa tahun kemudian wanita itu mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu tidak mampu menanganinya. Mereka akhirnya mengirimkanya ke kota yang mana terdapat dokter spesialis yang dapat menangani penyakit langkah tersebut. Dr. Horward di panggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal wanita itu, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Horward. Segera ia turun melalui hall rumah sakit menuju kamar wanita tersebut. Dengan berpakaian berjubah kedokteran ia menemui wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandangan dan kemudian ia kembali keruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik nyawa wanita itu. Setelah melalui perjuangan panjang akhirnya wanita itu sembuh. Horward meminta tagihan keuangan rumah sakit untuk mengirimkan semua tagihan pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Howard melihatnya dan menuliskan sesuatu di sana dan mengirimkannya pada wanita itu.

Wanita itu takut untuk membaca tagihan tersebut. Ia yakin ia tidak dapat membayar tagihan itu walaupun dengan cara dicicil. Akhirnya ia mencoba membaca tagihan itu. Ia membaca tulisan yang berbunyi: “ telah dibayar lunas dengan segelas susu” Tertanda: Dr.Horward Kelly. Air mata kebahagian membasahi pipi wanita itu, Ia bersyukur pada Allah ,terima kasih bahwa cintaMu telah memenuhi seluruh dunia,melalui hati dan perbuatan.



Adapted by "3o hari mencari jati diri"