Sabtu, 13 Juni 2009

Sebuah Misteri Tanpa Jejak

Kami bertutur dalam sebuah seminar perasaan, tepatnya semester 6, serius selintas kutangkap abjad terasa asing ditelinga. Aneh dimataku, mungkin karya mancanegara. Debat kami jadi redup.
Ia bertanya aku menjawab. Huruf melahirkan serangkaian kata menuai satu demi satu telaga kata. Uap kalimat terasa sejuk. Wahai keturunan Adam dengarlah wejangan sang guru :
Cucuku,... menapaktilasi rel kehidupanbukanlah suatu misteri ilustrasi yangg tak melewati jalan berliku lagi terjal nan berjurang, karena berlayar tanpa ombak rasanya hanyalah menyantap kata-kata tanpa seni, mengganggu orang yang khuyuk meresahkan bagi yang mendengar.
Setiap makhluk yang bernyawa sepertimu dibutuhkan bukti yang kasat mata berupa hujan ujian, dan masalah yang menjadi pelajaran rutin yang di hadiahkan sang empu semesta alam.
Bahtera hidup tata sepi ujian diibaratkan fatamorgana menjelang sore, indah dipandang namun tiada...kosong...ketahuilah cindera mata sang penyair bencana memberikan goresan penuh arti sejuta makna dala perjuangan, fenomena aljabar yang sulit dipecahkan naluri akal sehat objek penderita, kadangkala cenderung bertualang ditemani angka merah. Kebaikan selalu hadir setelah berseteru dengan cobaan, menuai penderitaan. Setiap nafas kita selalu dihadang lasykar hitam yang gentayangan menawarkan transaksi kesenangan, konsekuensinya
Sudah bosan telah renta rangkaian anggota badan selalu disapa kesalahan dan hilap laksana jarum waktu yang terus mengunjungi menit dan detik berdetak penuh keabsolutan, angkuh tak sadar.
Cucuku,...
Badai adalah seni kehidupan, ujian adalah ladang kebahagiaan. Tak kenal ujian kertas lukismu takkan indah...

Minggu, 07 Juni 2009

Izinkan Aku Bahagiakannya Sebelum Engkau Bahagiakan

"Seorang Ibu Tertangkap Mencuri Cokelat di Supermarket", Yaa,.. begitulah judul yang di tulis di dalam surat kabar lokal SumSel, seketika itu juga muncul keinginan tuk membacanya, dan ternyata setelah di introgasi oleh petugas sang Ibu mengaku bahwa dia mencuri lantaran anaknya terus-terusan merengek minta dibelikan cokelat, sementara sang ibu tak punya uang yang cukup tuk membelinya, yaa begitula. Terkadang muncul pertanyaan, Siapakah yang salah? Ibu yang mencuri? Anak yang terus merengek? atau, Lingkungan sosialkah? atau jangan-jangan, Harga cokelat yang mahal? Ah,.. sudahlah, tak perlu mencari siapa yang salah, sekarang apa nilai kisah itu! Ibu, selamanya tetaplah Ibu, entah kapan membalas jasanya!! takkan rela ia mendengar tangis anaknya, rela ia menahan laparnya, rela ia korbankan waktu istirahatnya, tak pernah sakit hatinya dengan kelakuan putra putrinya, bahkan di usia yang makin senja curahan kasih sayang itu tak pernah sirna, kasih itu masih kulihat di sorot mata yang mulai kabur, kasih itu tetap terdengar di telinga yang mulai melemah, kasih itu masih terasa di kulit yang mulai keriput, kasih itu tetap cerah walau rambutnya mulai berubah putih. Detik masa kini telah menghantarku pada usia muda,kulihat kegelisahan yang sangat di mata Ibu, yaa aku tahu dia khawatirkan hari-hariku, perlindungan yang aku lihat sejak ku kecil. Tiap detiknya kini adalah untukku, ah bagaimana aku membalasnya! Aku ingat ketika itu, aku masih sekolah,. dengan sepatu yang sudah tak layak, ibu menghadiahiku sepatu baru, tanpa aku tahu bagaimana ia mencarinya, dan kini aku tahu bahwa ia membeli sepatu untukku dari uang pinjaman, atau ketika aku merengek ketika lebaran tiba tuk di belikan baju baru, Ibu pasti mengabulkan bagaimnapun caranya, padahal yang kutahu, sejak aku duduk di bangku SLTP tak pernah aku melihat Ibu mengenakan baju baru. Bagaimana aku membalasnya! Rabb, Izinkan aku membhagiakannya sebelum engkau yang membahagiakannya.